Manajemen Waktu

Banyak orang  melakukan kesalahan dalam menganalisa Manajemen waktu mereka. Mereka sangat konsen menganalisa  semua yang mereka lakukan setiap hari, selama berminggu-minggu atau bahkan bulan.

Dan kemudian mereka berhenti melakukan itu karena mereka menyadari bahwa tidak ada perubahan positif.

Tetapi tetaplah  pada jalur bagaimana mengatur waktu yang anda habiskan,  bukan manajemen waktu?

Manajemen waktu adalah bagaimana membuat perubahan dengan cara anda dalam menghabiskan waktu. Untuk manajemen waktu yang efektif, Anda harus menerapkan sistem manajemen waktu yang tentunya akan membantu Anda melihat di mana perubahan bisa dan harus dilakukan.

Mengikuti perkembangan berbagai kegiatan Anda sehari-hari hanya merupakan langkah awal untuk manajemen waktu yang efektif. Langkah pertama dari manajemen waktu adalah untuk menganalisis bagaimana Anda sebenarnya menghabiskan waktu Anda sehingga Anda dapat menentukan perubahan apa yang ingin Anda buat.

Di sinilah upaya banyak orang di manajemen waktu menjadi gagal. Mereka melihat hari-hari tertentu dalam waktu atau schedule harian  mereka yang dikemas dengan kegiatan 7:00-10:00 dan tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan hal itu. Jadi mereka kembali pada teknik mencoba dan benar dan menghilangkan beberapa peristiwa dan memprioritaskan orang lain. Tapi mereka tidak benar-benar berhasil apa-apa; mereka baru saja ulang itu. Semua masalah yang dirasakan dan frustrasi kegiatan hari itu masih ada – dan pada akhir hari, mereka masih lelah dan frustrasi.

Mengelola Waktu Anda Dengan Kategori Manajemen Waktu

Bagaimana Anda benar-benar mengelola waktu?Rahasianya ada di kategori. Lihat schedule Anda untuk besok. Mungkin sudah penuh dengan peristiwa dan aktivitas  Anda dan berharap untuk tercapai. Ketika Anda bekerja atau sesudahnya, Anda akan mengisi ruang kosong.

Sekarang lihat daftar dan menggolongkannya.Berapa banyak waktu selama hari kerja Anda apakah Anda benar-benar menghabiskannya:

1) Menempatkan peringatan. Sebuah panggilan telepon tak terduga. Sebuah laporan yang dibutuhkan untuk pertemuan yang seharusnya dicetak kemarin. Sebuah file yang hilang yang harus di meja Anda. Berapa hari Anda benar-benar menghabiskan dalam modus krisis? Bagi kebanyakan orang, ini adalah kategori negatif yang menguras energi mereka dan mengganggu produktivitas mereka.

2) Menangani interupsi panggilan. Telepon dan orang menurun oleh kantor Anda mungkin akan atas daftar ketika Anda menetapkan kegiatan dalam kategori ini. Sekali lagi, bagi kebanyakan orang, ini adalah kategori negatif karena mengganggu (dan kadang-kadang membunuh) produktivitas.

3) Melakukan tugas-tugas yang direncanakan. Ini adalah positif menggunakan sebagian besar waktu selama hari kerja Anda. Anda berada dalam kontrol dan mencapai apa yang Anda inginkan untuk dicapai. tugas yang direncanakan dapat mencakup panggilan telepon, pertemuan dengan staf, bahkan menjawab email – jika ini adalah tugas yang Anda memasukkan dalam agenda Anda.

4) Bekerja tanpa gangguan,. Mungkin Anda tidak akan bekerja pada tugas yang telah Anda rencanakan untuk dilakukan, tetapi Anda mendapatkan untuk mencapai sesuatu, dan bagi kebanyakan orang, ini adalah positif modus kerja produktif, sangat.

5) downtime terganggu. Mereka kali selama hari kerja yang digunakan untuk kembali semangat dan berkumpul kembali. Makan siang atau istirahat pertengahan-pagi bisa menghitung JIKA mereka tidak terganggu. Jika Anda cukup beruntung untuk bekerja dengan sebuah perusahaan yang menawarkan fasilitas di tempat kerja-kamar-kamar tidur atau, yang akan menghitung juga. Setiap orang membutuhkan sejumlah downtime terganggu dibangun ke hari mereka untuk menjadi produktif selama waktu kerja mereka.

Sebuah Minggu Dari lalu Anda Apakah Kunci Untuk Masa Depan

Sekarang bahwa Anda memahami kategori manajemen waktu, saatnya untuk menggunakannya untuk menganalisis “biasa Anda” hari kerja. Menggunakan sistem kalender apa pun yang Anda gunakan untuk daftar janji dan aktivitas dalam kehidupan sehari-hari Anda, kembali dan pilih khas seminggu terakhir. Pergi melalui entri setiap hari kerja dan mengkategorikan mereka sesuai dengan kategori manajemen waktu di atas. Menjaga total berjalan di bagian bawah setiap hari akan membuat mudah untuk melihat bagaimana Anda telah menghabiskan waktu kerja Anda setiap hari.

Sekarang Anda memiliki data yang Anda butuhkan untuk melakukan perubahan dengan cara Anda menghabiskan waktu Anda di tempat kerja. Apakah Anda menghabiskan terlalu banyak waktu memadamkan api? Kemudian Anda perlu membuat perubahan organisasi atau fisik untuk mencegah atau menunda krisis ini konstan. Bersihkan dan mereorganisasi meja Anda, misalnya, sehingga Anda dapat menemukan file yang Anda butuhkan dengan mudah, dan membentuk rutin menempatkan file-file yang Anda butuhkan untuk hari berikutnya di meja Anda sebelum Anda meninggalkan untuk hari itu. Tidak cukup mendapatkan downtime terganggu selama hari kerja Anda? Kemudian Anda perlu untuk membangun it in Misalnya, berhenti makan siang di meja Anda dan secara fisik meninggalkan bangunan untuk Anda ditetapkan waktu makan siang.

Dengan menerapkan karya saya kategori manajemen waktu, dan membuat perubahan yang Anda butuhkan untuk membuat lebih banyak menghabiskan waktu Anda selama hari kerja dalam kategori positif dan waktu kurang dalam kategori negatif, Anda benar-benar akan dapat secara efektif mengatur waktu Anda di tempat kerja – dan mencapai tujuan sebenarnya dari manajemen waktu, untuk merasa lebih baik.

http://cozyblog.co.cc/2010/07/kesalahan-dalam-menganalisa-manajemen-waktu.html

Manajemen waktu menurut islam

Dalam Al-Qur’anul Karim Surat Al-Ashr (103): 1-3, Allah berfirman yang artinya sebagai berikut.

1. Demi masa.

2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,

3. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

Ayat di atas menjelaskan bahwa manusia memang benar-benar berada dalam kerugian apabila tidak memanfaatkan waktu yang telah diberikan oleh Allah secara optimal untuk mengerjakan perbuatan-perbuatan baik. Hanya individu-individu yang beriman dan kemudian mengamalkannyalah yang tidak termasuk orang yang merugi, serta mereka bermanfaat bagi orang banyak dengan melakukan aktivitas dakwah dalam banyak tingkatan.

Lebih lanjut, dalam Al-Qur’an surat Al-Imran (3) ayat 104, Allah berfirman, “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung.”

Dengan demikian, hanya orang-orang yang mengerjakan yang ma’ruf dan meninggalkan yang munkarlah orang-orang yang memperoleh keuntungan.

Setiap muslim yang memahami ayat di atas, tentu saja berupaya secara optimal mengamalkannya. Dalam kondisi kekinian dimana banyak sekali ragam aktivitas yang harus ditunaikan, ditambah pula berbagai kendala dan tantangan yang harus dihadapi.

Seorang muslim haruslah pandai untuk mengatur segala aktivitasnya agar dapat mengerjakan amal shalih setiap saat, baik secara vertikal maupun horizontal. Secara vertikal, dirinya menginginkan sebagai ahli ibadah, dengan aktivitas qiyamullail, shaum sunnah, bertaqarrub illallah, dan menuntut ilmu-ilmu syar’i. Dalam hubungannya secara horizontal, ia menginginkan bermuamalah dengan masyarakat, mencari maisyah bagi keluarganya, menunaikan tugas dakwah di lingkungan masyarakat, maupun di tempat-tempat lainnya.

Semua itu tentu saja harus diatur secara baik, agar apa yang kita inginkan dapat terlaksana secara optimal, tanpa harus meninggalkan yang lain. Misalnya, ada orang yang lebih memfokuskan amalan-amalan untuk bertaqarrub ilallah, tanpa bermu’amalah dengan masyarakat. Ada juga yang lebih mementingkan kegiatan muamalah dengan masyarakat, tetapi mengesampingkan kegiatan amalan ruhiyahnya.

Dalam hal ini, manajemen waktu untuk merencanakan, mengatur, dan melaksanakan kegiatan-kegiatan yang ada haruslah memiliki landasan-landasan berikut.

1. Pengetahuan kaidah yang rinci tentang optimalisasi waktu

Setiap muslim, hendaknya memahami dan mengetahui kaidah-kaidah yang rinci tentang cara mengoptimalkan waktunya. Hal ini bertujuan untuk kebaikan dan kemaslahatan dirinya dan orang lain. Tokoh-tokoh seperti Imam Ibnul Jauzi, Imam Nawawi, dan Imam Suyuthi adalah orang-orang yang menjadi teladan bagi orang-orang yang bisa mengoptimalkan waktu semasa hidupnya.

2. Memiliki manajemen hidup yang baik

Setiap muslim haruslah pandai mengatur segala urusan hidupnya dengan baik, menghindari kebiasaan yang tak jelas, matang dalam pertimbangan dan mempunyai perencanaan sebelum melakukan pekerjaan. Ia harus berpikir, membuat program, mempersiapkan, mengatur dan melaksanakannya.

3. Memiliki Wudhuhul Fikrah

Seorang muslim haruslah memiliki keluasan atau fleksibilitas dalam berpikir, seperti mampu berpikir benar sebelum bertindak, berpengetahuan luas, mampu memahami substansi pemikiran dan paham. Hal itu penting sebagai dasar pengembangan berpikir ilmiah.

4. Visioner

Seorang muslim juga harus memiliki pandangan jauh ke depan, bisa mengantisipasi berbagai persoalan yag akan terjadi di tahun-tahun mendatang.

5. Melihat secara utuh setiap persoalan

Setiap orang yang dapat mengatur waktunya secara optimal, tidak melihat masalah secara parsial. Karena bisa jadi, persoalan itu memiliki kaitan dengan yang lainnya.

6. Mengetahui Perencanaan dan skala prioritas

Mengetahui urutan ibadah dan prioritas, serta mengklasifikasi berbagai masalah adalah faktor penting dalam mengatur waktu agar menghasilkan kerja yang optimal. Dengan membuat skala prioritas, akan menghindarkan dari ketidakteraturan kegiatan.

7. Tidak Isti’jal dalam mengerjakan sesuatu

Mengerjakan sesuatu dengan tidak tergesa-gesa dan berdasar pada ketenangan jiwa yang stabil merupakan landasan yang penting dalam mewujudkan hidup yang lebih baik.

Sementara, orang yang musta’jil menginginkan agar dalam waktu singkat ia mampu melakukan hal-hal yang terpuji, sekaligus meninggalkan hal-hal yang tidak terpuji. Hal ini jelas tidak sesuai dengan sunah kauniyah, yaitu hukum alam dan kebiasaan.

8. Berupaya seoptimal mungkin

Jika kita menginginkan terwujudnya aktivitas amal shalih, maka secara optimal kita harus mengarahkan diri pada persoalan itu sesuai kemampuan yang ada pada diri kita.

9. Spesialisasi dan pembagian pekerjaan

Setiap muslim haruslah memiliki keahlian tertentu. Ia boleh memiliki pengetahuan luas, tetapi ia juga perlu memfokuskan pada keahlian tertentu.

Landasan-landasan di atas hanya dapat dipenuhi, jika telah memenuhi syarat sebagai berikut.

1. Disiplin dan Pembiasaan sejak dini

Penanaman disiplin akan waktu, mengahargai waktu sejak kecil merupakan hal penting. Dengan demikian, ia akan terbiasa untuk mengatur hidupnya secara mandiri dan optimal untuk merencanakan berbagai macam aktivitas. Disiplin terkait dengan ibadah, tidur, makan, termasuk senda gurau. Ali bin Abi Thalib mengatakan, “Berilah istirahat hati karena kalau dipaksakan akan membabi buta.”

2. Memiliki kecerdasan dan kejeniusan

Munculnya indikasi kecerdasan pada seseorang merupakan faktor penting untuk bisa mewujudkan hal di atas.

3. Memiliki kondisi fisik dan mental yang positif

Untuk melaksanakan manajemen waktu yang optimal, memang perlu ditunjang dengan adanya keinginan yang kuat, tindakan yang terus menerus, aktif, lapang dada, penuh optimisme, berpengetahuan luas, mampu memadukan berbagai pemikiran dan mampu mengendalikan emosi, seperti sedih, berduka dan susah, di samping memiliki budi pekerti dan akhhlak yang tinggi.

4. Memiliki ketrampilan

Pengetahuan yang luas, tanpa diiringi dengan ketrampilan hanya akan menjadi aksi yang tidak kongkret. Banyak orang yang pandai berbicara, tetapi hanya sedikit orang yang bisa bekerja dan menekuni bidang pekerjaannya.

PENTINGNYA MANAJEMEN WAKTU

Waktu adalah salah satu nikmat tertinggi yang diberikan Allah kepada Manusia. Sudah sepatutnya manusia memanfaatkannya seefektif dan seefisien mungkin untuk menjalankan tugasnya sebagai makhluk Allah di bumi ini. Karena pentingnya manajemen waktu ini maka Allah swt telah bersumpah pada permulaan berbagai surat dalam al-quran yang turun di mekkah dengan berbagai macam bagian dari waktu. Misalnya bersumpah: demi waktu malam, demi waktu siang, demi waktu fajar, demi waktu dhuha, dan demi masa. Semisal dalam surat Al-Lail ayat 1-2, Allah berfirman: “demi malam apabila menutupi (cahaya siang), dan siang apabila terang benderang.” Menurut pengertian yang popular di kalangan para mufassirin dan juga dalam perasaan kaum muslimin, apabila Allah bersumpah dengan sesuatu dari ciptaan-Nya, maka hal itu mengandung maksud agar kaum muslimin memperhatikan kepada-Nya dan agar hal tersebut mengingatkan mereka akan besarnya manfaat dan impressinya. Oleh karena itu, barang siapa terluput atau terlena dari suatu amal perbuatan pada salah satunya, maka hendaklah ia berusaha menggantikannya pada saat yang lain.

Sementara itu sunnah nabawiah juga mengukuhkan nilai waktu, dan menetapkan adanya tanggung jawab manusia terhadap waktu di hadapan ALLAH kelak di hari kiamat. Terlebih, ada empat pertanyaan pokok yang akan dihadapkan kepada setiap mukallaf di hari perhitungan kelak, dan ada dua pertanyaa dasar yang khusus berkenaan dengan waktu. Tentang hal tersebut telah diriwayatkan oleh Mu’adz bin Jabal ra, bahwa Nabi saw telah bersabda:

“Tiada tergelincir kedua telapak kaki seorang hamba di hari Kiamat, sehingga ditanya tentang empat hal, yaitu tentang umurnya di mana ia habiskan, tentang masa mudanya di mana ia binasakan, tentang hartanya dari mana ia peroleh dan ia belanjakan, dan tentang ilmunya bagaimana ia mengamalkannya.”

Begitulah, bahwa manusia bakal ditanya tentang umurnya secara umum dan tentang masa mudanya secara khusus. Sesungguhnya masa mudamemang bagian daripada usia manusia. Namun, masa itu mempunyai nilai istimewa dilihat dari segi usia, yaitu kehidupan yang penuh pancaran cahaya, keteguhan yang masih dapat berkelanjutan, dan merupakan suatu masa kuat di antara dua ancaman kelemahan, yaitu kelemahan masa kanak-kanak dan kelemahan masa tua. Sebagaimana disinyalir dalam firman Allah SWT surat Ar Ruum ayat 54:

“Allah, dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan berubah.”

Kewajiban-kewajiban dan etika Islam telah menetapkan adanya makna yang agung, yaitu nilai waktu dan upaya memperhatikan setiap tingkatan dan setiap bagiannya. Kewajiban ini menyadarkan dan mengingatkan manusia agar menghayati pentingnya waktu, dan irama gerak alam, peredaran cakrawala, perjalanan matahari, planet-planet lain serta pergantian malam dan siang. Sebagaimana ditentukannya waktu-waktu untuk shalat, zakat, puasa, dan haji. Hal ini merupakan memberikan pelajaran bagi setiap muslim harus senantiasa sadar terhadap perputaran masa dan mengawasi gerak pergantiannya, sehingga tidak menunda-nunda waktu terhadap ibadah-ibadah yang telah ditentukan dan agenda-agenda harian yang telah direncanakan.

Waktu mempunyai karakteristik khusus yang istimewa. Kita wajib mengerti secara sungguh-sungguh dan wajib mempergunakannya sesuai dengan pancara cahayanya. Di antara karakteristik waktu adalah sebagai berikut:

a. Cepat habis. Waktu itu berjalan laksana awan dan lari bagaikan angin, baik waktu senang atau suka ria maupun saat susah datau duka cita. Apabila yang sedang dihayati itu hari-hari gembira, maka lewatnya masa itu terasa lebih cepat, sedangkan jika yang dihayati itu waktu prihatin, amaka lewatnya masa-masa itu terasa lambat. Namun, pada hakikatnya tidaklah demikian, karena perasaan tersebut hanyalah perasaan orang yang sedang menghayati masa itu sendiri. Kendati umur manusia dalam kehidupan dunia ini cukup panjang, namun pada hakikatnya umur manusia hanya sebentar, selama kesudahan yang hidup itu tibalah saat kematian. Dan tatkala mati telah merenggut, maka tahun-tahun dan masa yang dihayati manusia telah selesai, hingga laksana kejapan mata yang lewat bagaikan kilat yang menyambar.

b. Waktu yang telah habis tak akan kembali dan tak mungkin dapat diganti. Inilah ciri khas waktu dari berbagai karakteristik khusus waktu. Setiap hari yang berlalu, setiap jam yang habis dan setiap kejapan mata yang telah lewat, tidak mungkin dapat dikembalikan lagi dan tidak mungkin dapat diganti.

c. Modal terbaik bagi manusia. Oleh karena waktu sangat cepat habis, sedangkan yang telah lewat tak akan kembali dan tidak dapat diganti dengan sesuatu pun, maka waktu merupakan modal terbaik. Modal yang paling indah dan paling berharga bagi manusia. Keindahan waktu itu dapat diketahui melalui fakta bahwa waktu merupakan wadah bagi setiap amal perbuatan dan segala produktivitas. Karena itulah, maka secara realistis waktu itu merupakan modal yang sesungguhnya bagi manusia, baik secara individu (perorangan) maupun kolektif atau kelompok masyarakat.

Kiat yang benar untuk menyikapi waktu menurut Islam, ialah pandangan yang mencakup masa lalu, masa sekarang dan masa depan secara keseluruhan. Oleh karena itu, manusia wajib melihat, mengisi, dan mempersiapkan ketiga masa tersebut.

a. Wajib melihat masa lalu. Melihat ke masa lalu, dimaksudkan untuk mengambil pealjaran dengan segala peristiwa yang terjadi pada masa tersebut. Menerima nasehat dengan kejadian yang dialami umat saat itu dan sunnatullah terhadapa mreeka, sebab masa lalu merupakan wadah peristiwa dan khazanah pelajaran.

b. Melihat masa depan. Melihat ke masa depan memang hal wajib, sebab manusia itu sesuai dengan fitrahnya senantiasa terikat ke masa depan. Ia tak akan dapat melupakannya atau menyembunyikannya di balik kedua telinganya. Sebagaimana manusia itu diberi rezeki ingatan yang menghubungkannya dengan masa lalu dan apa yang terjadi di dalamnya, maka iapun deberi rezeki upaya menggambarkan masa depan dan apa yang akan diharapkan.

c. Memperhatikan masa kini. Apabila seorang mukmin berkewajibanmelihat ke masa lalu untuk mengambil pelajaran, mengambil manfaat, dan mawas diri. Di samping itu, juga perlu melihat ke masa depan untuk mempersiapkan perbekalan. Maka, ada kewajiban untuk memperhatikan masa kini, yaitu masa di mana secara nyata kita sedang menjalani dan menghayatinya, agar kita dapat menggunakannya sebelum lepas dan tersia-sia.

*Disadur dari buku Manajemen Waktu Islami karangan Yusuf Qardhawi

URGENSI MANAJEMEN WAKTU BAGI KITA

Manajemen berasal dari bahasa Prancis kuno ménagement, yang memiliki arti seni melaksanakan dan mengatur. Manajemen belum memiliki definisi yang mapan dan diterima secara universal. Mary Parker Follet, misalnya, mendefinisikan manajemen sebagai seni menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain. Definisi ini berarti bahwa seorang manajer bertugas mengatur dan mengarahkan orang lain untuk mencapai tujuan organisasi. Ricky W. Griffin mendefinisikan manajemen sebagai sebuah proses perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, dan pengontrolan sumber daya untuk mencapai sasaran (goals) secara efektif dan efesien (Wikipedia). Sehingga pendekatan terkait definisi manajemen waktu ialah merupakan perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, dan pengawasan produktivitas waktu. Waktu menjadi salah satu sumber daya unjuk kerja. Sumber daya yang mesti dikelola secara efektif dan efisien. Efektifitas terlihat dari tercapainya tujuan menggunakan waktu yang telah ditetapkan sebelumnya. Dan efisien tidak lain mengandung dua makna,yaitu: makna pengurangan waktu yang ditentukan, dan makna investasi waktu menggunakan waktu yang ada.


Islam amat mementingkan perihal waktu. Seorang muslim tidak pantas menunggu dimotivasi oleh orang lain untuk mengatur waktunya. Allah Azza wajallah telah mengingatkan kita akan pentingnya watu dengan beberapa kali menyebutkannya dalam Kitab Alquran. Islam menganggap pemahaman tentang waktu sebagai salah satu indikator keimanan dan bukti ketaqwaan, Allah berfirman : “sesungguhnya pada pertukaran malam dan siang itu dan pada yang diciptakan Allah di langit dan di bumi, benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan-Nya) bagi orang-orang yang bertakwa”(QS Yunus: 6). Dalam beberapa ayat quran juga banyak disinggung tentang sumpah Allah yang menekankan pada pentingnya waktu dan keagungannya.beberapa ayat tersebut ialah:
• “demi malam apabila menutupi (cahaya siang), dan malam apabila terang benderang”. (QS Al Lail: 1-2)
• “Demi fajar dan malam yang sepuluh”. (QS. Al Fajr: 1-2)
• “Demi waktu matahari sepenggalan naik, dan demi malam apabila telah sunyi”. (QS Ad Dhuha: 1-2)
• “Demi masa, Sesungguhnya manusia benar-benar dalam keadaan merugi”.(QS. Al Ashr: 1-2)
Dan sebagainya.
Selain itu, nabi Muhammad dalam sunnahnya juga beberapa kali menyinggung pentingnya waktu. Seperti hadist yang diriwayatkan At Turmudzi dalam As-sunan: Rosulullah bersabda : “dua telapak kaki hamba tidak akan bergeser dari tempatnya pada hari kiamat nanti, sehingga ditanya tentang empat hal: Tentang umurnya, dalam hal apa ia habiskan? Tentang masa mudanya, dalam hal apa ia binasakan? Tentang hartanya, darimana diperoleh dan dalam hal apa diinfakkan? Serta tentang ilmunya, apa yang dia lakukan dengannya?. Hadist lain seperti yang diriwayatkan oleh Al Hakim dalam al Mustadrak mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda: “gunakan lima hal sebelum datangnya lima hal: masa mudamu sebelum masa tuamu, masa sehatmu sebelum jatuh sakit, masa kayamu sebelum masa fakirmu, masa luangmu sebelum masa sibukmu, masa hidupmu sebelum sampai ajalmu.”.
Jika kita perhatikan, syiar-syiar islam juga menegaskan urgensi dan nilai waktu. Islam menempatkan ibadah ritual dengan pembagian waktu yang jelas dengan batas-batas tertentu. Seperti sholat wajib lima waktu yang penempatan waktunya selaras dengan aktivitas manusia. Hal ini secara tidak langsung memaksa umat islam untuk memberi perhatian lebih tentang penggunaan waktu.
Menurut Yusuf Qardhawi, mengapa begitu pentingnya umat Islam mempelajari manajemen waktu, adalah karena hal-hal sebagai berikut:
• Ajaran Islam begitu besar perhatiannya terhadap waktu, baik yang diamanatkan dalam Al Qur’an maupun As Sunnah;
• Dalam sejarah orang-orang Muslim generasi pertama, terungkap, bahwa mereka sangat memperhatikan waktu dibandingkan generasi berikutnya, sehingga mereka mampu menghasilkan sejumlah ilmu yang bermanfaat dan sebuah peradaban yang mengakar kokoh dengan panji yang menjulang tinggi;
• Kondisi real, kaum Muslimin, belakangan ini justru berbalikan dengan generasi pertama dahulu, yakni cenderung lebih senang membuang-buang waktu, sehingga kita tidak mampu berbuat banyak dalam menyejahterakan dunia sebagaimana mestinya, dan tidak pula berbuat untuk akhirat sebagaimana harusnya, dan yang terjadi adalah sebaliknya, kita meracuni kehidupan dunia dan akhirat sehingga tidak memperoleh kebaikan dari keduanya.

Cara di bawah ini mungkin sedikit banyak membantu agar manajemen waktu kita lebih efektif:
– Tetapkan tujuan dan cita-cita hidup anda( Target ).
agar hidup lebih bermakn, seharusnya kita sebagai umat manusia memiliki keinginan tertentu yang harus kita capai sebelum ajal menjemput kita. Tujuan dan cita-cita hidup harus kita tetapkan sedini mungkin agar waktu pencapaiannya mencukupi intuk meraihnya. Dan yang terpenting tujuan dan cita-cita kita harus realistis dan jelas.

- Lakukan perencanaan.
Untuk mencapai tujuan dan cita-cita yang telah kita tentukan. Hal terpenting setelah itu ialah menetapkan langkah-langkah apa untuk menuju ke tujuan kita. Langkah-langkah ini tentunya harus sistematis dan realistis untuk melakukannya. Langkah-langkah ini terangkum dalam perencanaan jangka panjang dan rencana jangka pendek.

- Tetapkan skala prioritas.
Setelah tahapan sebelumnya tercapai, tetapkan dan tentukan dari beberapa langkah tersebut mana yang paling penting dan paling mendesak.

- Luangkan waktu.
Meskipun kita memiliki sejumlah rencana yang akan segera direalisasikan. Kita juga harus sadar bahwa diri kita juga butuh penyegaran, rekreasi untuk me-refresh pikiran dan tubuh kita. Luangkan waktu untuk break sejenak melepas kepenatan dan kejenuhan rutinitas yang kita lakukan. Namun jangan lupa sehingga waktu luang yang kita luangkan tidak sampai berpengaruh pada menurunnya produktifitas kita.

 

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.